Cerita Kemenangan Batin di Ramadhan 1447 Hijriah (2026)

Malam itu aku berada di sebuah tempat yang mirip dengan sports club di Kelapa Gading. Lampunya temaram, musik terdengar dari dalam, dan orang-orang terlihat datang untuk bersenang-senang. Dari luar aku sudah tahu suasananya seperti apa. Minuman beralkohol, orang-orang bergaya bebas, dan aturan tak tertulis yang harus diikuti kalau ingin masuk.

kemenangan ramadhan

Aku melangkah ke pintu masuk.

Seorang security menghentikanku.

“Mas, minimal vape dulu kalau mau masuk,” katanya.

Aku tersenyum kecil. Aku memang tidak minum alkohol, tidak juga terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Tapi malam itu aku hanya ingin bertemu beberapa teman lama yang katanya sedang berkumpul di dalam.

Aku mengeluarkan kartu debit dari dompetku.

“Saya mau spend out di sini,” kataku santai.

Security itu menggeleng.

“Maaf, tetap tidak bisa masuk.”

Aku terdiam sebentar. Ada perasaan aneh di dada. Bukan marah, tapi lebih seperti tidak adil. Aku tidak melakukan hal yang salah, tapi seolah-olah tidak diterima hanya karena aku tidak mengikuti kebiasaan mereka.

Akhirnya aku bersuara agak keras.

“Jadi karena saya tidak minum alkohol saya tidak boleh masuk?” kataku sambil mengangkat kartu debit itu.

Beberapa orang menoleh. Suasana di depan pintu jadi sedikit gaduh. Security itu terlihat bingung, lalu memanggil seseorang dari dalam.

Tak lama kemudian keluar seorang pria dengan tuxedo rapi. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tegas seperti manajer tempat itu. Dia mendekat dan menatapku sebentar.

Aku menjelaskan singkat.

Belum sempat aku berkata panjang, tiba-tiba dia tersenyum… lalu memelukku.

Aku kaget, tapi suasana langsung berubah. Seperti ada sesuatu yang mencair. Orang-orang yang tadi melihat mulai terlihat santai kembali.

Saat itulah dari dalam ruangan terdengar suara wanita memanggil.

Aku menoleh.

Dari dalam berjalan seorang wanita cantik. Wajahnya sangat jelas. Aku langsung mengenalinya.

“Kak Ati?”

Dia adalah kakak dari temanku dulu di Kelapa Gading. Sudah lama sekali aku bahkan hampir lupa wajahnya. Tapi di mimpi itu dia terlihat begitu jelas, anggun, dan hangat.

Dia langsung mendekat dan memelukku.

“I love you,” katanya.

Aku terdiam.

Dia mengulanginya lagi.

“I love you.”

Dan sekali lagi.

“I love you.”

Anehnya, suasana di sekitar kami cukup ramai. Banyak orang melihat, tapi rasanya tetap intim. Hangat. Seperti momen yang hanya milik kami berdua, walaupun semua orang menyaksikan.

Kami kemudian berjalan keluar bersama.

Entah kenapa kami naik kereta. Seperti perjalanan santai tanpa tujuan yang jelas. Kami turun di sebuah tempat yang terasa familiar, seperti area pertokoan dalam di Kelapa Gading.

Kami tertawa-tawa sepanjang jalan.

Di depan sebuah deretan toko dia memandangku dengan heran.

“Aku nggak percaya kamu seumuranku,” katanya.

Aku tertawa. Aku mengeluarkan KTP dari dompet.

“Nih, lihat sendiri.”

Saat aku mengangkat KTP itu, dari seberang jalan aku melihat dua sosok yang sangat kukenal.

N… dan M.

Mantan istriku

Mereka berdiri di sana, melihat ke arahku. Tapi mereka tidak mendekat. Hanya melihat dari jauh.

Aku tidak merasa marah. Tidak juga sedih. Hanya seperti melihat masa lalu yang berdiri di seberang jalan.

Aku kemudian melanjutkan langkah bersama Kak Ati.

Perjalanan seperti berpindah lagi

Aku tiba di daerah Pulomas. Di sebuah pojok jalan ada bengkel kecil. Tempat itu terasa sangat nyata karena di dunia nyata dulu memang pernah ada bengkel di sana.

Tiba-tiba suasana agak ramai.

Beberapa polisi berdiri di depan bengkel itu bersama beberapa orang yang tampaknya teman lama. Aku mendekat sedikit, hanya seperti orang yang penasaran melihat kejadian.

Seorang polisi berkata kepada rekannya,

“Gelar doktor… tapi ada proyektil.”

Aku spontan bertanya,

“Peluru tajam atau bukan?”

Polisi itu hanya tersenyum. Senyum seperti orang yang baru mendapatkan tangkapan besar.

Aneh sekali. Bengkel itu tiba-tiba terasa seperti tempat eksklusif yang menyimpan rahasia.

Tak lama kemudian seorang polisi lain turun dari tangga dengan wajah kegirangan.

“Barang bukti!” katanya.

Dia mengangkat sesuatu dengan bangga.

“Emerald… tiga juta karat!”

Aku bengong.

Tiga juta karat? Itu bahkan tidak masuk akal.

Orang-orang di sekitar terlihat heboh. Polisi-polisi itu tampak seperti menemukan harta karun besar yang tersembunyi.

Aku hanya berdiri di sana, menonton kejadian itu seperti penonton biasa.

Tidak terlibat. Hanya menyaksikan.

Lalu tiba-tiba…

Telepon berdering.

Aku terbangun.

Anakku menelepon.

“Pa, laundry sudah jemput. Di depan pagar.”

Aku tertawa kecil di tempat tidur.

Mimpi itu terasa sangat nyata.

Ada hambatan, ada cinta, ada masa lalu yang hanya bisa melihat dari jauh, ada rahasia yang terbongkar, dan ada sesuatu yang sangat berharga yang ditemukan.

Dan ketika semuanya selesai…

Aku bangun dengan perasaan ringan.

Seperti seseorang yang baru saja memenangkan sebuah pertempuran yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Sebuah kemenangan batin.

Jika Seluruh Mimpi Tersebut Dirangkai

Alur mimpi kamu sebenarnya sangat seperti cerita kemenangan batin:

  1. kamu dihambat karena prinsip

  2. kamu berani bersuara

  3. kamu diterima dan dihormati

  4. kamu dicintai di depan banyak orang

  5. masa lalu hanya melihat dari jauh

  6. kamu melihat kebenaran tentang orang lain

  7. ditemukan “harta” yang sangat berharga

Ini bukan mimpi konflik, tapi mimpi pemulihan dan pembuktian diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

9 Ciri Tipe Orang yang Suka Ber-Kamuflase

Hukum Istri Meninggalkan Rumah Saat ada Masalah dengan Suami

Ibu Clara Putri Murphy Berpesan di Facebook