KEMERDEKAAN PEREMPUAN


‘’Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh,baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’’ (Q.S. An Nahl : 97)

Sebelum islam datang, dimasa jahiliyah kaum perempuan dianggap sebagai manusia yang kurang berharga dan kurang berguna bagi kehidupan,bahkan hanya dianggap sebagai pelampiasan hawa nafsu kaum lelaki, sesudah itu habislah peranannya. Bahkan para ayah malu dan aib apabila mempunyai anak perempuan.

Untuk menghilangkan rasa malu tersebut, mereka mengubur hidup-hidup anak perempunnya. Mereka betul-betul benci kepada kaum perempuan, seperti apa yang dilakukan sendiri kepada Umar bin Khattab ra sebelum masuk Islam. Kehadiran Nabi Muhammad saw kedunia dinyatakan oleh Allah sebagai pembawa rahmatbagi smua ummat manusia, kaum perempuan. Derajat perempuan terangkat sebagai manusia yang mempunyai sifat lemah lembut. Hal tersebut dinyatakan dalam ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah saw.

Sejarah membuktikan bahwa sejak kehadiran Islam itulah, sebenarnya dimulai gerakan-gerakan kemerdekaan dan kesetaraan perempuan yang diawali oleh Rasulullah saw sendiri yang telah mempelopori kemerdekaan dan emansipasi wanita itu dimulai dari keluargaya sendiri, istri-istrinya dan putrinya, sanak sodara kemudian diteruskan kepada keluarga-keluarga para sahabat. Dari mereka dapat diambil suri tauladan bagaimana wanita berperilaku, bagaimana mengurus suami dan bergaul dengan suami, bagaimana mengurus anak-anak dan anggota keluarganya, bagaimana bertindak-tanduk, bagaimana harus belajar, apa saja yang mereka ketahui, bagaimana mengatur rumah tangga, bagaimana membawa diri diwaktu bersama keluarga dan sewaktu berada diantara orang yang banyak dan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah kehidupan.

Wanita Dalam Islam


Pada masa Rasulullah saw, sering terjadi perselisihan antara ummat islam dengan ummat agama lain, dimana wanita menjadi pedamping kaum laki-laki dalam membantu rakyat yang terkena musibah atau luka. Bahkan kaum wanita justru dapat memberikan dorongan keneranian luar biasa kepada kaum laki-laki maju untuk terus kemedan perang melawan musuh. Siti Khadijah, istri Rasulullah SAW adalah wanita pertama yang memberikan keberanian dan semangat kepada Rasulullah (salamu alaika)tatkala beliau merasa sangat takut dan gemetar tubuhnya dikala bertemu dengan Malalikat Jibril (alaihi salam) di Gua Hira ketika menerima wahyu pertama.

Ketika umat Nasrani membesarkan maryam sebagai ibunda Isa as, maka ummat Islam memuliakan dan membesarkan Fatimah sebagai putri Rasulullah saw. Setelah putra-putranya wafat maka kasih sayang beliau dicurahkan sepenuhnya untuk putrinya, ‘’FATIMAH’’. Diajarinnya Fatimah ilmu pengetahuan sehingga tumbuh sebagai wanita bijaksana dan mempunyai kelebihan-kelebihan.

Setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, lahirlah putranya Hasan, Husein dan Mukhsin, namun Mukhsin meninggal sewaktu kecil, sedangkan Hasan dan Husein tumbuh dalam didikan Fatimah dengan sempurna sehingga menjadi pemimpin ummat.fatimah sendiri sering dijadikan contoh oleh Rasulullah sawketika memberi nasehat kepada para sahabat-sahabatnya, untuk istri dan anak-anak
perempuan. Beliau mengatakan ‘’Contohlah Fatimah’’.

Laki-laki dan Wanita Sama Derajadnya di Sisi Allah


Kalau dilihat dari segi kehambaan antara laki-laki dan wanita disisi Allah yang Maha Adil, maka sesungguhnya Allah tidak membeda-bedakan dua jenis makhluk tersebut. Yang membedakan antara mereka adalah semata-mata perbuatan baik dan perbuatan burukyang dilakukan oleh masing-masing. Surga dijadikan bukan untuk kaum pria saja. Seorang kepala Negara yang mempunyai kekuasaan yang sangat luas dibandingkan dengan rakyat biasa yang miskin adalah sama kedudukannya dimata Allah, keduanya sebagai Hambanya yang harus bertanggung jawab nanti dihadapan pengadilanNya yang Maha Adil.

Laki-laki dan wanita seperti yang disebut diatas tidak dibeda-bedakan, sama-sama berhak masuk surga, sama-sama dibolehkan turut (berpartisipasi) berlomba memperoleh kebajikan, mengabdi kepada masyarakat dan agama. Jika kaum pria boleh maju, kenapa wanita tidak? Dasar persamaan antara kaum pria dan wanita ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala,

‘’Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam kedaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnhya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang baik dari apa yang mereka kerjakan’’. (Q.S An Nahl :97)

Sungguh sangat rendah tindakan seseorang yang memandang rendah kaum wanita, sehingga terdapat dalam suatu rumah tangga dimana suami taat menjalankan ibadah sedang istrinya tidak tahu sama sekali, suami menjalankan shalat dengan khusu’ dan melakukan puasa dengan teratur sedang istrinya tidak. Anak lelaki disekolahkan dan dimasukkan ke tempat-tempat pedidikan dan pengajian, tetapi anak wanita dibiarkan tinggal dirumah saja, padahal mereka nantinya akan menjadi ibu rumah tangga dan akan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya.

Memang ada jabatan-jabatan penting yang tidak diberikan oleh Allah kepada kaum wanita seperti jabatan kenabian dan kerasulan, akan tetapi bukankah yang menglahirkan para Nabi dan para Rasul itu adalah kaum wanita?

Begitu juga terhormatnya Maryam ibu Nabi Isa, sehingga disebutkan dalam Al-Qura’n dengan panggilan seorang wanita saleh dan bertaqwa. Demikian juga Asiah dan Mashitah di zaman fir’aun, Siti Khadijah dan Aisyah di zaman Nabi Muhammad saw.

Begitu juga bagi kaum wanita kurang dibenarkan; untuk memangku jabatan sebagai Khalifah baik dilakukan sendiri maupun bersama kaum pria, namun pada permulaan Islam terdapat banyak wanita terpelajar dan terkemuka, bahkan banyak pula diantara mereka yang melebihi kaum pria, seperti Ummul Mukminin (Ibu seorang beriman), yaitu istri-istri Nabi Muhammad. Kekurangan yang ada pada diri kaum wanita tidak akan mengurangi derajatnya, karena masih banyak jabatan-jabatan penting yang dapat dipegangnya sesuai dengan kadar kemampuannya sebagai seorang wanita. Inilah salah satu ke-universitas- an Islam.

Emansipasi Sebuah Justifikasi


Akhir-akhir ini semakin merebak perdebatan tentang ajaran agama yang berkaitan dengan perempuan, terutama dlam ajaran Islam. Banyak orang mempertanyakan yang terkesan bias gender. Dalam beberapa tradisi agama ditemukan kesan mendiskreditkan perempuan, jika terjadi razia maksiat meski yang terjaring adalah perempuan. Bapak-bapak lebih banyak menyalahkan perempuan. Ajaran Islam secara normatif mengajarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Hal ini mengandung tanda tanya besar bagi pemeluknya, apakah kesalahan terletak pada tekstualnya atau pada cara, memahaminya? Mungkin kah Islam mengajarkan prinsip kesetaraan itu memuat hal-hal yang kontradiktif, seperti memandang rendah terhadap perempuan. Pembicaraan kesetaraan sering dikaitkan dengan emansipasi. Sementara hal itu masih diperdebatkan.

Apakah emansipasi berarti kesetaraan?

Ada yang mengatakan emansipasi itu tidak perlu lagi dibicarakan karena sejak awal Islam telah memberikan kesetaraaan. Disisi lain ada yang memaknai dengan ‘’persamaan’’ yang identik dengan produk pemikiran barat yang menyesatkan seperti tercemin dalam bentuk kebebasan, yang dilabelkan dengan gerakan ‘’Women Liberation’’. Dalam gerakan ini perempuan memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki, yang kadangkala diluar batas kodrat dan harkat perempuan. Wallahu a’lam

H. Amril Syaifa Yasin. MA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Istri Meninggalkan Rumah Saat ada Masalah dengan Suami

9 Ciri Tipe Orang yang Suka Ber-Kamuflase

Jika Suami Sedang Susah dan Istri Gugat Cerai